Keris Sebagai Representatif Manusia Dalam Peradaban Masyarakat Bali Di Lombok
Abstrak
Keris, senjata tradisional Indonesia, memiliki peran yang signifikan dalam peradaban masyarakat Bali di Lombok. Keris bukan hanya sekedar senjata, tetapi juga menjadi simbol budaya, seni, filosofi, dan identitas masyarakat Bali. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi peran keris sebagai representatif manusia dalam peradaban masyarakat Bali di Lombok. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan studi lapangan dan wawancara terhadap tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mendalam tentang keris Bali di Lombok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keris memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Bali di Lombok. Pertama, keris menjadi simbol identitas budaya yang kuat. Keris merupakan penanda status sosial dan keberanian dalam masyarakat Bali. Pemilik keris dianggap memiliki kedudukan yang tinggi dan dihormati oleh masyarakat. Melalui keris, masyarakat Bali di Lombok mempertahankan dan mewariskan nilai-nilai budaya mereka dari generasi ke generasi. Keris juga menjadi simbol keindahan seni. Proses pembuatan keris melibatkan keterampilan tinggi dari pandai keris. Keris Bali di Lombok memiliki hiasan-hiasan yang indah, termasuk ukiran-ukiran halus dan ornamen-ornamen khas Bali. Keindahan seni keris menjadi ekspresi dari kreativitas
Referensi
Ardhana, I. W. G., & Laksmi, N. K. D. P. (2013). "Pentingnya Seni Keris dalam Perkembangan Budaya Masyarakat Bali di Lombok." Jurnal Ilmiah Pariwisata, 17(2), 129-138.
Ardika, I. W. (2017). Keris Bali di Lombok: Representasi Budaya Bali dalam Konteks Multikulturalisme. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 17(2), 144-156.
Atmaja, I. G. A. A. (2014). Sejarah Keris Bali: Dari Bali menuju Lombok. Surya Bhumi, 2(2), 199-214.
Blustein, R. J. (2000). Representing Human Values in the Cultural Domain. Journal of Applied Developmental Psychology, 21(1), 85-96.
Dewi, I. A. K., & Dwipayanti, N. M. (2017). Pengaruh Perilaku Kultural terhadap Kualitas Hidup pada Masyarakat Bali di Kabupaten Gianyar. Jurnal Ilmiah Psikologi, 6(1), 57-68.
Fitriani, E. (2019). Budaya Keris sebagai Peningkat Kualitas Hidup Masyarakat Solo dan Surakarta. Jurnal Ipteks Terapan, 13(2), 116-126.
Hardjasaputra, S. (1996). Filosofi Keris Jawa: Tinjauan Etnografi dan Psikologi Budaya. Jakarta: Balai Pustaka.
Henley, D. (2009). Masyarakat Bali di Lombok dan Representasi Identitas Budaya. Jurnal Sosial Humaniora, 2(3), 141-160.
Hinzler, H. I. R. (1997). "Keris and other Malay weapons." Oxford University Press.
Hinzler, H. I. R. (2013). The Balinese Keris: A Historical Perspective. Archipel, 85(1), 175-202. Prabawa, W. A. (2015). Keris Sebagai Simbol Identitas Budaya Bali di Lombok. Kajian Bali, 5(1), 97-118.
Irmayanti, I. A. P., & Adnyani, I. G. A. K. (2021). Representation of Keris as a Cultural Symbol in Balinese Society in Lombok. International Journal of Linguistics, Literature, and Culture, 7(1), 27-34.
Laksana, I. K., & Artika, I. M. (2018). Pemahaman Filsafat Hidup Bali Lombok melalui Keris. Jurnal Filsafat, 28(2), 146-157.
Noer, D. (1987). Keris dan Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Nugroho, D. (2018). Kearifan Lokal Keris sebagai Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Yogyakarta. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 18(1), 24-32.
Nuraini, F., Mawardi, I., & Susilawati, L. (2017). Penerapan Kearifan Lokal Masyarakat Palembang sebagai Peningkatan Kualitas Hidup. Jurnal Kependidikan: Penelitian Inovasi Pembelajaran, 1(1), 69-79.
Pratama, I. G. B., & Sukanta, I. M. (2019). Keris sebagai Identitas Budaya Masyarakat Bali di Lombok. Jurnal Pendidikan Humaniora, 7(3), 272-284.
Prasita, I. M. N., & Sari, I. A. P. (2018). Representasi Simbol Keris dalam Budaya Bali di Lombok. Jurnal Sospol, 4(1), 17-28.
Priyanto, Y. B., & Suryadi, I. (2019). Fungsi dan Makna Keris dalam Budaya Bali di Lombok. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, 21(2), 176-191.
Santoso, B., Rahmawati, A., & Pratama, S. P. (2018). Keris sebagai Representasi Budaya Jawa dalam Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Yogyakarta. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, 14(3), 241-250.
Subiyanto, D. (2017). The Cultural Meaning of Keris in Javanese Society. International Journal of Cultural Studies, 2(2), 53-66.
Soekmono, R. (1984). "Keris dan Budaya Jawa." Kanisius.
Suprapto, R. (2008). "Keris dan Kepercayaan Masyarakat Bali." Mimbar Hukum, 20(3), 439-452.
Sedana, I. W. (2015). Keris dalam Kearifan Lokal Masyarakat Bali di Lombok. Journal of Cultural Studies, 15(2), 224-244.
Suarta, I. G., & Wirawan, I. M. (2020). Kekerisan dalam Kehidupan Masyarakat Bali di Lombok. KERTHAYASA: Journal of Social and Cultural Anthropology, 2(1), 27-43.
Widiastuti, N. P. A. (2018). Keris Sebagai Lambang Identitas Budaya Bali di Lombok. Jurnal Bina Praja: Journal of Home Affairs Governance, 10(1), 35-44.
Yasa, I. M., Sutajaya, I. M., & Suja, I. W. (2022). Kris Sacred Art Which Has Parhyangan Value Based on Sundaram's Satyam Siwam. Proceedings of the 1st International Conference on Social Science and Technology (INCOSST) (pp. 1-14). Cirebon: Ridwan Institute.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).





.jpg)



