Bunyi Gamelan Angklung Dalam Upacara Pitra Yadnya Di Kota Mataram (Ditinjau Dari Perspektif Sosiologi)
Abstrak
Sebagian kalangan masyarakat Hindu yang ada di Kota Mataram mengenal bahwa Gamelan Angklung hanya dipergunakan dan berfungsi untuk mengiringi upacara Pitra Yadnya atau ngaben dikarenakan bunyi yang dihasilkan dari pukulan nada atau bilah pada Gamelan Angklung tersebut memiliki kesan yang menimbulkan rasa haru dan suasana kesedihan, kemudian bunyi gending yang dihasilkan dari instrument gamelan angklung dianggap terdengar selalu sama atau monoton antara jenis gending yang satu dengan jenis gending angklung yang lainnya pada saat mengiringi prosesi upacara Pitra Yadnya.
Dari latar belakang di atas, maka ada beberapa permasalahan yang dikaji, meliput:1) Bagaimana persepsi masyarakat di Wilayah Karang Medain Barat terhadap bunyi gamelan angklung dalam upacara Pitra Yadnya di Kota Mataram, 2) Bagaimana esensi bunyi gamelan angklung dalam upacara Pitra Yadnya di Kota Mataram ditinjau dari perspektif sosiologi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi. Permasalahan yang dikaji menggunakan dua teori, yaitu teori rasa, dan teori interaksionalisme simbolik.
Adapun hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : Persepsi masyarakat di Wilayah Karang Medain Barat terhadap bunyi gamelan angklung dalam upacara Pitra Yadnya di Kota Mataram, yaitu : 1). Dari segi konteks penggunaannya, 2). Dari segi jenis tabuhnya, 3). Dari segi cara menikmatinya. Esensi bunyi gamelan angklung dalam upacara Pitra Yadnya di Kota Mataram ditinjau dari perspektif sosiologi, diantaranya bahwa : 1). Bunyi gamelan angklung dalam upacara Pitra Yadnya digunakan untuk mengiringi upacara dan sebagai media informasi adanya suatu prosesi upacara atau sarana komunikasi sosial yang alamiah. 2). Bunyi dari gamelan angklung secara tidak langsung dan bersifat ilmiah sebagai sarana interaksi untuk menjalin kebersamaan, menyambung tali persahabatan dan persaudaraan, pembangkit emosi sosial, pembangkit suasana dan rasa, serta pembelajaran etika sosial. 3). Bunyi gamelan angklung sebagai sarana menciptakan harmonisasi kehidupan, baik itu dengan Tuhan, manusia dengan manusia, ataupun manusia dengan alam semesta.
Referensi
Ariani dkk. 2013, dalam Jurnal Psikologi Udayana 2013, Vol. 1, No. 1, 151-159 dengan judul “Hubungan Intensitas Latihan Musik Gamelan Bali dan Kecerdasan Emosional”.
Arikunto, S. 2010. In Prosedur PenelitianDan Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Arsana. 2014.dalam Jurnal Vol. 15 No. 2, Desember 2014: 107-125 dengan Judul “Kosmologis Tetabuhan dalam Upacara Ngaben”.
Asnawa, G. I.K. (2007). Kebhinekaan dan kompleksitas gamelan bali. Bheri:Jurnal Ilmiah Musik Nusantara, 6(1), 26-51.
Astita, I Nyoman. Dkk. 2019. Bungbang Tradisi Gamelan Anyar Di Banjar Tengah, Sesetan, Kota Denpasar. Denpasar: Dinas Kebudayaan Kota Denpasar.
Bandem, I Made. 2013. Gamelan Bali Di Atas Panggung Sejarah. Denpasar: Penerbit STIKOM Bali.
Bandem, I Made. 1986. PRAKEMPA SEBUAH LONTAR GAMBELAN BALI. Denpasar: Penerbit ASTI Denpasar.
Donder, I. K. 2005. Esensi Bunyi Gamelan dalam Prosesi Ritual Hindu Persepektif Filosofis-Teologis, Psikologis, Sosiologis, dan Sains. Surabaya: Paramita.
Jovi, I Nyoman. Dkk. 2017. Karakteristik Gamelan Angklung Padma Gita Swara Di Lingkungan Karang Seraya Cakranegara Mataram Nusa Tenggara Barat. Jurnal Institut Seni Indonesia Denpasar.
Narulia dkk. 2013dalam Jurnal Psikologi Integratif, Vol. 1, No. 1,Halaman 72 – 83, dengan judul “Perbedaan Kecerdasan Emosi Antara Remaja Yang Mengikuti Aktivitas Bermain Gamelan Dengan Remaja Yang Tidak Mengikuti Aktivitas Bermain Gamelan”.
Pardede, Evelina. 1998. Alat Musik Tradisional Koleksi Museum Jambi. Jambi: Proyek Pembinaan Permuseuman Jambi.
Pendit, S. Nyoman. 1986. Bhagawadgita. Jakarta: Penerbit Dharma Nusantara.
Pudja Gd, dan Tjok Rai Sudharta.78/79. Manawa Dharmaçastra. Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia.
Ratna Supradewi 2010 dalam Jurnal Buletin PsikologiVolume 18, No. 2, 2010: 58 – 68 dengan judul “Otak, Musik, Dan Proses Belajar”.
Sivananda, S. S. 2003. Intisari Ajaran Hindu. Surabaya: Paramitha.
Soekanto, S. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Suarjaya, I. W. 2008. Panca Yajna. Denpasar Timur: Widya Dharma.
Sudirga, I, Komang.2004, Kontinuitas dan Perubahan Gamelan Angklung Dalam Konteks Kehidupan Masyarakat Bali,dalam Bheri Jurnal Ilmiah Musik Nusantara Vol.3 No.1 September 2004,Denpasar,UPT Penerbitan ISI
Sugiyono. 2018. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta CV.
Sukadana. 2018 dalam Jurnal Widya Wretta,Vol. 1 Nomor 1, 2018 : 89-96 dengan Judul“Nilai Agama Hindu dalam Gamelan Gambang”.
Sukayasa, I. W. 2007. Teori Rasa : Memahami Taksu, Ekspresi & Metodenya. Denpasar Timur : Widya Dharma.
Sukerna, I. N. 2003. Gamelan Jegog Bali. Semarang Timur: Intra Pustaka Utama Denpasar.
Sukrawati, Ni, Made. 2019, Acara Agama Hindu.Denpasar : UNHI Press.
Supanggah, R. 1995. Etnomusikologi. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Suprayitno, T. d. 2010. Sosiologi Pendidikan. Malang: UIN Maliki Press.
Tim Penyusun. 2014. Pedoman Penyusunan Skripsi. STAH Negeri Gde Pudja Mataram.
Tirtarahardja, U. d. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Sumber Internet :
https://gamabali.com/upacara-dan-upakara/ (dikutip pada tanggal 04 april 2021).
https://phdi.or.id/(dikutip pada tanggal 04 april 2021).
http://sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-111910025722-97.pdf (dikutip pada tanggal 19 Mei 2021).
https://www.komangputra.com/runtutan-pelaksanaan-ngaben.html/13 (dikutip pada tanggal 19 Mei 2021).
http://www.babadbali.com/seni/gamelan/gw-angklung.htm pengertian gamelan angklung (dikutip pada tanggal 19 Mei 2021).
https://id.wikipedia.org/wiki/Gamelan_Bali jenis gamelan angklung (dikutip pada tanggal 19 Mei 2021).






